Pada masa bercocok tanam,
teknologi pembuatan alat mengalami kemajuan pesat apalagi ketika ditemukannya
teknik peleburan, percampuran, penempaan, dan pencetakan logam.
Semula
jenis-jenis logam seperti besi, tembaga, timah, dan emas dibuat dengan teknik peleburan
sederhana, kemudian dengan teknik percampuran menghasilkan perunggu yang lebih
kuat.
Pembuatan alat-alat dari logam semula menggunakan cara ditempa dan
dipanaskan, kemudian menggunakan teknik
setangkup (bevalve) dan cetakan lilin (a cire perdue).
Teknik setangkup dengan
menggunakan model cetakan dari tanah liat, sedangakan cetakan lilin modelnya
dibuat dari lilin, kemudian dibungkus dengan tanah liat.
Setelah dipanaskan
lilin akan mencair keluar dan terbentuk rongga.
Pembuatan alat dan benda-benda
pusaka serta gelang dari bahan besi
agaknya terbatas pada daerah-daerah tertentu di Pulau Jawa. Jenis-jenis benda
besi itu berupa mata kapak, mata pisau, mata sabit, mata alat penyiang rumput,
mata pedang, mata tombak, dan gelang besi.
Pada masa bercocok tanam dan
tinggal menetap, misalnya sudah menguasai pengetahuan dan teknologi yang
berkaitan dengan usaha pertanian mereka.
Teknologi pengairan sederhana pada
waktu itu kemungkinan sudah dikuasai.
Begitu juga pengetahuan mengenai iklim
dengan memahami tanda-tanda alam untuk mengetahui kapan musim hujan dan kapan
musim kemarau. Pengetahuan mengenai musim ini sangat penting bagi usaha
bercocok tanam mereka.
Melihat alat-alat yang mereka
kuasai, terutama kapak, dan terdapatnya bukti- bukti bahwa mereka sudah
mengenal dan menemukan api, kemungkinan mereka sudah mengembangkan
transaportasi air.
Semula bentuk transportasi yang digunakan adalah rakit yang
pembuatannya tidak terlalu sulit. Rakit digunakan pertama kali oleh manusia di
pedalaman. Selain bahan-bahannya berupa bambu banyak tersedia, rakit sangat
praktis untuk transportasi sungai. Sedangkan teknologi pembuatan perahu muncul
kemudian ketika manusia dapat menguasai api dan mengembangkan kapak batu
bertangkai. Dalam membuat perahu dilakukan secara bersama-sama, yaitu dengan
cara pohon yang sudah ditebang dibakar sedikit lalu membuat lubang cekung
dengan mengerakan kapak, kemudian dibakar lagi lalu dilubangi lagi. Demikian berulang-ulang
sampai terbentuk lunbang besar di tengah-tengah kayu.
Ketika manusia sudah
mengembangkan usaha bercocok tanam dan tinggal menetap, tuntutan terhadap
alat-alat penunjang kehidupannya juga mengalami perkembangan.
Fungsi alat tidak
hanya untuk berburu atau mengolah tanah. Akan tetapi juga untuk
keperluan-keperluan yang bersifat keagamaan. Bahkan pada masa berikutnya
pembuatan benda-benda sudah mulai menampakkan aspek-aspek seni yang sangat
indah.
Masa bercocok tanam ini
ditandai dengan berkembangnya kemahiran mengasah alat-alat batu dan pembuatan
gerabah.
Alat yang diasah adalah kapak batu dan beliung serta mata panah dan
mata tombak.
Alat-alat batu yang berupa beliung persegi merupakan alat yang
paling umum digunakan pada masa itu. Hal itu terlihat dari temuan-temuan alat
batu yang tersebar di beberapa tempat terutama di kawasan bagian Barat
Indonesia.
Bentuk beliung kebanyakan
memanjang dan seluruh permukaannya diasah halus kecuali di bagian pangkal untuk
tempat mengikat tangkainya.
Cara membuat bagian yang tajam dengan mengasah
bagian samping untuk memperoleh tajaman miring seperti tajaman pahat sekarang
ini. Jenis batu- batuan kalsedon, agat, dan jaspis paling umum digunakan untuk
bahan pembuatan beliung. Di beberapa daerah terdapat variasi dari alat beliung
ini, seperti beliung yang dibuat dari bahan khusus batu setengah permata,
beliung bahu, beliung tangga, beliung atap, beliung biola, dan beliung penarah.
Adanya variasi-variasi itu, selain menunjukkan perbedaan bentuk dan cara
penggrapannya juga masing-masing alat itu mempunyai fungsi yang berbeda.
Persebaran beliung dan
beberapa variasinya terdapat di daerah Bengkulu, Palembang, lampung (Sumatera),
Banten, Bogor, Cibadak, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Pekalongan, Banyumas,
Semarang, Kedu, Yogyakarta, Wonogiri, Punung, Surabaya, Madura, Malang, Besuki
(Jawa), dan daerah lainnya adalah Kalimantan, Sulawesi, Bali, Solor, Adonara,
Ternate, Maluku, Sangihe, dan Talaud. Beberapa tempat seperti Tasikmalaya,
Bogor, Punung, dan Palembang diperkirakan sebagai pusat pembuatan dan perbaikan
beliung persegi.
Pada masa yang hampir bersamaan,
di wilayah Indonesia Timur, seperti Sulawesi, Maluku, Flores, dan Irian,
berkembang pembuatan alat batu berupa kapak lonjong. Bentuk kapak lonjong ini,
sesuai dengan namanya berbentuk lonjong tetapi pada bagian tajamnya agak
runcing dan melebar. Bedanya kapak lonjong dengan jenis kapak batu lainnya
adalah pada tajaman. Tajaman kapak lonjong simetris atau dua sisi dan bahan
yang digunakan untuk membuat kapak lonjong kebanyakan dari batu kali berwarna
kehitam-hitaman. Beberapa alat ini seluruh permukannya diasah halus.
Selain alat-alat seperti
serpih terutama anak panah, juga bahan-bahan dari tulang mengalami
perkembangan. Bahan-bahan dari tulang berupa lancipan melengkapi alat-alat batu
dalam upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Fungsi alat pada masa
bercocok tanam tidak saja untuk membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya berupa makanan, tetapi juga berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan rohani. Fungsi itu, misalnya untuk perhiasan atau pelengkap
upacara.
Sementara itu, kebutuhan
manusia juga semakin luas, umpamanya kebutuhan akan pakaian. Hal itu terlihat
dari temuan alat batu berupa alat pemukul kulit kayu. Perhiasan mungkin tidak
hanya untuk memenuhi tuntutan keindahan saja tetapi juga digunakan untuk alat
tukar.
Ada temuan benda-benda
perunggu di Indonesia yang mempunyai kemiripan dengan temuan benda-benda di
Dongson (Vietnam). Hal itu diduga ada hubungan diantara keduanya. Adanya
perkembangan teknologi pembuatan alat dari bahan logam tersebut tidak serta
merta menghapuskan alat-alat dari batu. Pembuatan gerabah, misalnya, justru
mengalami perkembangan baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk
upacara-upacara penguburan dan keagamaan.
Pada masa bercocok tanam telah
ada kemampuan membuat barang-barang dari gerabah, barang anyaman, dan
barang-barang tenun. Barang-barang gerabah pada mulanya dibuat dengan cara yang
sederhana, setelah banyak pengalaman mutunya makin diperbaiki, demikian pula
pola hiasan dan warnanya. Alat-alat pada masa itu telah diupam (diasah) sampai
halus. Bahkan ada alat- alat yang terbuat dari batu indah seperti batu
kaldosen, batu api, dan lainnya.
Alat-alat tersebut mungkin
tidak digunakan sehari-hari dan diduga sebagai alat tukar, jadi semacam alat
pembayaran. Alat yang dipakai sehari-hari kebanyakan terbuat dari batu hitam
atau batu kali. Oleh karena bahan untuk membuat alat-alat tersebut tidak
terdapat di sembarang tempat, maka kemungkinan besar alat-alat semacam itu menjadi barang perdagangan.
Alat-alat batu masa itu sudah
bagus dan hasil buatannya. Ada pula alat-alat dari batu yang dibuat dari batu
indah yang disebut Kalsedon dan batu api. Alat-alat batu indah tersebut diduga
berfungsi sebagai alat tukar. Untuk mempertahankan hidupnya, manusia bercocok
tanam membuat perkakas- perkakas seperti beliung persegi, kapak lonjong dan
mata panah. Kelompok manusia bercocok tanam merupakan suatu kelompok masyarakat
yang sudah menetap dan teratur. Mereka hidup dalam perkampungan yang terus
tumbuh menjadi kesatuan-kesatuan yang lebih besar.
Berikut peralatan yang
dihasilkan pada masa ini :
a. Kapak Lonjong
![]() |
Gambar Kapak Lojong |
Kapak ini bentuknya yang umum
lonjong dengan pangkal agak runcing dan melebar pada bagian tajamnya. Bagian
tajam ini diasah dari dua arah dan bentuk bagian tajamnya simetris. Di sinilah
bedanya dengan beliung persegi yang tidak pernah memiliki bagian tajam yang
simetris (setangkup). Bahan yang dipergunakan untuk membuat beliung tersebut
umumnya dari batu kali yang berwarna kehitam-hitaman. Ada juga kapak lonjong
yanmg berukuran kecil yang mungkin dipergunakan sebagai benda pusaka.
Daerah penemuan kapak lonjong
di Indonesia hanya terbatas di daerah bagian timur, yaitu: Sulawesi,
Sangihe-Talaud, Flores, Maluku, Leti, Tanimbar, dan Irian. Di luar Indonesia
kapak-kapak lonjong ditemukan tersebar luas meliputi Birma, Laos, Cina,
Mancuria, taiwan, Jepang, Filipina, dan juga India.
b. Beliung Persegi
![]() |
Beliung Persegi |
Masa bercocok di Indonesia
bersamaan dengan berkembangnya kemahiran
mengupam (mengasah) alat-alat baru serta mulai dikenal cara pembuatan barang
gerabah. Di antara alat-alat batu yang paling menonjol pada masa bercocok tanam
di Indonesia adalah beliung persegi. Daerah penemuannya meliputi hampir seluruh
kepulauan Indonesia, terutama di bagian barat. Di luar Indonesia alat-alat
semacam itu ditemukan pula di Malaysia, Thailand, Vietnam, Khmer, Cina, Jepang,
Taiwan, Filipina, dan Polinesia.
Pada umumnya beliung ini
berbentuk memanjang dengan penampang lintang persegi. Bagian pangkalnya tidak
diasah sebagai tempat ikatan tangkai. Ukuran dan bentuknya bermacam-macam tergantung pada penggunaannya.
Yang paling kecil semacam pahat berukuran panjang kira- kira 4 cm dan yang
panjang kira-kira sampai 25 cm, dipergunakan untuk mengerjakan kayu. Bahan
batuan yang digunakan membuat beliung-beliung itu pada umumnya berupa batu
kalsedon, agat, chert, jaspis, dan sebagainya. Beliung batu oleh kalangan
penduduk petani di beberapa tempat disebut “gigi halilintar” atau “gigi
guntur”.
Ada bermacam-macam variasi
yang kita kenal dari beliung persegi. Variasi yang paling umum ialah
“belincung”, yaitu berpunggung tinggi. Karena bentuk punggung tersebut, maka
penampang lintang menjadi segitiga, segi lima atau setengah lingkaran. Variasi
ini kebanyakan ditemukan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali.
Perhatian terhadap beliung
persegi dan kapak batu yang diasah halus di Indonesia mulai sekitar tahun 1850
oleh beberapa ahli bangsa Eropa. Waktu itu yang dijadikan bahan studi berasal
dari temuan-temuan lepas, yang pengumpulannya diusahakan oleh sebuah
perkumpulan swasta (antara tahun 1800-1850) yang bernama “Bataviaasch
Genootschap van Kunsten en Wetenschappen”. Koleksi perkumpulan ini disimpan di
Museum Pusat di Jakarta.
Dari temuan-temuan lepas dapat
diketahui daerah persebaran beliung
persegi termasuk bentuk-bentuk variasinya di Sumatera (Bengkulu, Palembang,
Lampung), Jawa (Banten, Bogor, Cibadak, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon,
Pekalongan, Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Punung, Surabaya, Malang, Besuki),
Madura, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Solor, Maluku, Sangihe dan Talaud. Di antara
tempat-tempat tersebut ada yang diperkirakan semacam bengkel-bengkel beliung
persegi seperti di Bangamas (Palembang), Karangnunggal (Tasikmalaya), di desa
Pasirkuda (Bogor), di daerah pegunungan Karangbolong (Kedu) dan di Punung dekat
Pacitan, Jawa Timur. Beliung-beliung yang ditemukan dalam keadaan utuh diduga
mempunyai fungsi magis dan atau dipergunakan sebagai alat tukar dalam sistem
perdagangan sederhana.
Dari temuan-temuan lepas dapat
diketahui daerah persebaran beliung
persegi termasuk bentuk-bentuk variasinya di Sumatera (Bengkulu, Palembang,
Lampung), Jawa (Banten, Bogor, Cibadak, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon,
Pekalongan, Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Punung, Surabaya, Malang, Besuki),
Madura, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Solor, Maluku, Sangihe dan Talaud. Di
antara tempat-tempat tersebut ada yang diperkirakan semacam bengkel-bengkel
beliung persegi seperti di Bangamas (Palembang), Karangnunggal (Tasikmalaya),
di desa Pasirkuda (Bogor), di daerah pegunungan Karangbolong (Kedu) dan di
Punung dekat Pacitan, Jawa Timur. Beliung-beliung yang ditemukan dalam keadaan
utuh diduga mempunyai fungsi magis dan atau dipergunakan sebagai alat tukar
dalam sistem perdagangan sederhana.
c. Perhiasan

No comments:
Post a Comment