Labels

Saturday, August 30, 2014

KEHIDUPAN MASYARAKAT: Masa Hindu dan Buddha

Sebelum masuknya kebudayaan Hindu-Buddha, masyarakat telah memiliki kebudayaan yang cukup maju. Unsur-unsur kebudayaan asli Indonesia telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia. 
Bangsa Indonesia yang sebelumnya memiliki kebudayaan asli tidak begitu saja menerima budaya-budaya baru tersebut. 

Proses masuknya pengaruh budaya Indonesia terjadi karena adanya hubungan dagang antara Indonesia dan India. Kebudayaan yang datang dari India mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan asli Indonesia. 

Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan sejarah dalam berbagai bidang,
antara lain seperti berikut:


a. Bidang KeagamaanSebelum budaya Hindu-Buddha datang, di Indonesia telah berkembang kepercayaan yang berupa pemujaan terhadap roh nenek moyang. Kepercayaan itu bersifat animisme dan dinamisme.
Animisme merupakan suatu kepercayaan terhadap suatu benda yang dianggap memiliki roh atau jiwa. 
Dinamisme merupakan suatu kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib.
Dengan masuknya kebudayaan Hindu-Buddha, masyarakat Indonesia secara berangsur-angsur memeluk agama Hindu dan Buddha, diawali oleh golongan elite di sekitar istana.
 


b. Bidang PolitikSistem pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini, kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Kemudian, pemimpin ditentukan secara turun-temurun berdasarkan hak waris sesuai dengan peraturan hukum kasta. Oleh karena itu, lahir kerajaan-kerajaan, seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, dan kerajaan bercorak Hindu-Buddha lainnya.

 

c. Bidang SosialMasuknya kebudayaan Hindu menjadikan masyarakat Indonesia mengenal aturan kasta, yaitu: 
  1. Kasta Brahmana (kaum pendeta dan para sarjana), Kasta Ksatria (para prajurit, pejabat dan bangsawan),
  2. Kasta Waisya (pedagang petani, pemilik tanah dan prajurit).
  3. Kasta Sudra (rakyat jelata dan pekerja kasar). Namun, unsur budaya Indonesia lama masih tampak dominan dalam semua lapisan masyarakat.

Sistem kasta yang berlaku di Indonesia berbeda dengan kasta yang ada di India, baik ciri-ciri maupun wujudnya. Hal ini tampak pada kehidupan masyarakat dan agama di Kerajaan Kutai. 
Berdasarkan silsilahnya, Raja Kundungga adalah orang Indonesia yang pertama tersentuh oleh pengaruh budaya India. Pada masa pemerintahannya, Kundungga masih mempertahankan budaya Indonesia karena pengaruh budaya India belum terlalu merasuk ke kerajaan. 
Penyerapan budaya baru mulai tampak pada waktu Aswawarman, anak Kundungga, diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya. 
Adanya pengaruh Hindia mengakibatkan Kundungga tidak dianggap sebagai pendiri Kerajaan Kutai (Nugroho Notosusanto, et.al, 2007: 42).

 

d. Bidang PendidikanLembaga-lembaga pendidikan semacam asrama merupakan salah satu bukti pengaruh dari kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Lembaga pendidikan tersebut mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan.


e. Bidang Sastra dan BahasaPengaruh Hindu-Buddha pada bahasa adalah dikenal dan digunakannya bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa oleh masyarakat Indonesia. Pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, seni sastra sangat berkembang terutama pada zaman kejayaan Kerajaan Kediri.
 


f. Bidang ArsitekturPunden berundak merupakan salah satu arsitektur Zaman Megalitikum. Arsitektur tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami pembuatan bangunan candi. Jika kita memperhatikan, Candi Borobudur sebenarnya mengambil bentuk bangunan punden berundak agama Buddha Mahayana. Pada Candi Sukuh dan candicandi di lereng Pegunungan Penanggungan, pengaruh unsur budaya India sudah tidak begitu kuat. Candi-candi tersebut hanyalah punden berundak.

Begitu pula fungsi candi di Indonesia, candi bukan sekadar tempat untuk memuja dewa-dewa seperti di India, tetapi lebih sebagai tempat pertemuan rakyat dengan nenek moyangnya. Candi dengan patung induknya yang berupa arca merupakan perwujudan raja yang telah meninggal. Hal ini mengingatkan kita pada bangunan punden berundak dengan menhirnya.

Proses Masuk dan Berkembangnya Hindu-Budha di Indonesia

Pada permulaan tarikh masehi, di Benua Asia terdapat dua negeri besar yang tingkat peradabannya dianggap sudah tinggi, yaitu India dan Cina. 


Kedua negeri ini menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangan dan pelayaran berlangsung melalui jalan darat dan laut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewati India-Cina adalah Selat Malaka. 

Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan dua samudera, serta berada di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu:
  • Sering dikunjungi bangsa-bangsa asing (India, Cina, Arab, dan Persia)
  • Kesempatan melakukan hubungan perdagangan internasional terbuka lebar
  • Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas
  • Pengaruh asing masuk ke Indonesia (Hindu-Budha)

Keterlibatan bangsa Indonesia dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang memberikan pengaruh kepada Indonesia, yaitu dalam bentuk budaya Hindu. 

Ada beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia:
  1. Hipotesis Brahmana Hipotesis ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya penyebaran budaya Hindu di Indonesia. Para brahmana mendapat undangan dari penguasa Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan. Pendukung hipotesis ini adalah Van Leur.
  2. Hipotesis Ksatria Pada hipotesis ksatria, peranan penyebaran agama dan budaya Hindu dilakukan oleh kaum ksatria. Menurut hipotesis ini, di masa lampau di India sering terjadi peperangan antar golongan didalam masyarakat. Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang, lantas meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu pula terjadi proses penyebaran agama dan budaya Hindu. F.D.K. Bosch adalah salah seorang pendukung hipotesis ksatria
  3. Hipotesis Waisya Menurut para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang berasal dari kelompok pedagang telah berperan dalam menyebarkan budaya Hindu ke Nusantara. Para pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyatnya. Jalinan hubungan itu telah membuka peluang bagi terjadinya proses penyebaran budaya Hindu. N.J.Krom adalah salah satu pendukung dari hipotesis waisya
  4. Hipotesis Sudra Von van Faber mengungkapkan bahwa peperangan yang tejadi di India telah menyebabkan golongan sudra menjadi orang buangan. Mereka kemudian meninggalkan India dengan mengikuti kaum waisya. Dengan jumlah yang besar, diduga golongan sudralah yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu ke Nusantara.


Selain pendapat di atas, para ahli menduga banyak pemuda di wilayah Indonesia yang belajar agama Hindu dan Buddha ke India. Di perantauan mereka mendirikan organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh ilmu yang banyak, mereka kembali untuk menyebarkannya. Pendapat semacam ini disebut Teori Arus Balik.



AGAMA HINDU

Agama Hindu berkembang di India pada ± tahun 1500SM. Sumber ajaran Hindu terdapat dalam kitab sucinya yaitu Weda. 

Kitab Weda terdiri atas 4 Samhitaatau “himpunan” yaitu:
  1. Reg Weda, berisi syair puji-pujian kepada paradewa
  2. Sama Weda, berisi nyanyian-nyanyian suci
  3. Yajur Weda, berisi mantera-mantera untuk upacara keselamatan
  4. Atharwa Weda, berisi doa-doa untuk penyembuhan penyakit. 

Di samping kitab Weda, umat Hindu juga memiliki kitab suci lainnya yaitu:
  1. Kitab Brahmana, berisi ajaran tentang hal-hal sesaji
  2. Kitab Upanishad, berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup.

Agama Hindu menganut Polytheisme (menyembah banyak dewa), diantaranya Trimurti atau “Kesatuan Tiga Dewa Tertinggi” yaitu:
  1. Dewa Brahmana, sebagai dewa pencipta
  2. Dewa Wisnu, sebagai dewa pemelihara dan pelindung
  3. Dewa Siwa, sebagai dewa perusak.

Selain Dewa Trimurti, ada pula dewa yang banyak dipuja yaitu: 
  1. Dewa Indra pembawa hujan yang sangat penting untuk pertanian
  2. Dewa Agni (api) yang berguna untuk memasak dan upacara-upacara keagamaan 

Menurut agama Hindu masyarakat dibedakan menjadi 4 tingkatan atau kasta yang disebut Caturwarna yaitu:
  1. Kasta Brahmana, terdiri dari para pendeta
  2. Kasta Ksatria, terdiri dari raja, keluarga raja, dan bangsawan
  3. Kasta Waisya, terdiri dari para pedagang, dan buruh menengah
  4. Kasta Sudra, terdiri dari para petani, buruh kecil,dan budak.

Selain 4 kasta tersebut terdapat pula golongan Pharia atau Candala, yaitu orang di luar kasta yang telah melanggar aturan-aturan kasta. 

Orang-orang Hindu memilih tempat yang dianggap suci, yaitu: 
  1. Benares sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa 
  2. Sungai Gangga yang airnya dapat mensucikan dosa umat Hindu, sehingga bisa mencapai puncak nirwana.




AGAMA BUDDHA

Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama diIndia pada tahun ± 531 SM. Ayahnya seorang raja bernama Sudhodana dan ibunya Dewi Maya. 

Buddha artinya orang yang telah sadar dan ingin melepaskan diri dari samsara. Kitab suci agama Buddha yaitu Tripittaka artinya “Tiga Keranjang” yang ditulis dengan bahasa Poli. 

Adapun yang dimaksud dengan Tripittaka atau "Tiga Keranjang" adalah:
  1. Winayapittaka, berisi peraturan-peraturan dan hukum yang harus dijalankan oleh umat Buddha
  2. Sutrantapittaka, berisi wejangan-wejangan atau ajaran dari sang Buddha
  3. Abhidarmapittaka, berisi penjelasan tentang soal-soal keagamaan.


Pemeluk Buddha wajib melaksanakan Tri Dharma atau“Tiga Kebaktian” yaitu: 
  1. Buddha yaitu berbakti kepada Buddha
  2. Dharma yaitu berbakti kepada ajaran-ajaran Buddha
  3. Sangga yaitu berbakti kepada pemeluk-pemeluk Buddha

Disamping itu agar orang dapat mencapai nirwana harus mengikuti 8 (delapan) jalan kebenaran atau Astavidha yaitu:
  1. Pandangan yang benar
  2. Niat yang benar
  3. Perkataan yang benar
  4. Perbuatan yang benar
  5. Penghidupan yang benar
  6. Usaha yang benar
  7. Perhatian yang benar
  8. Bersemedi yang benar

Karena munculnya berbagai penafsiran dari ajaran Buddha, akhirnya menumbuhkan dua aliran dalam agama Buddha yaitu:
  1. Buddha Hinayana, yaitu setiap orang dapat mencapai nirwana atas usahanya sendiri
  2. Buddha Mahayana, yaitu orang dapat mencapai nirwana dengan usaha bersama dan saling membantu.


Pemeluk Buddha juga memiliki tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat yaitu:
  1. Kapilawastu, yaitu tempat lahirnya Sang Buddha
  2. Bodh Gaya, yaitu tempat Sang Buddha bersemedi dan memperoleh Bodhi
  3. Sarnath/ Benares, yaitu tempat Sang Buddha mengajarkan ajarannya pertama kali
  4. Kusinagara, yaitu tempat wafatnya Sang Buddha

Sejarah Nusantara: Periode Protosejarah

Bas-relief (relief dalam) pada Candi Borobudur, menunjukkan kapal/perahu bercadik khas Nusantara yang digunakan pedagang dari wilayah ini. Perhatikan pula arsitektur rumah panggung di sisi kiri, yang banyak dijumpai di berbagai tempat di Nusantara.

Kontak dengan dunia luar diketahui dari catatan-catatan yang ditulis orang Tiongkok.
Dari sana diketahui bahwa telah terdapat masyarakat yang berdagang dengan mereka.
Objek perdagangan: 
  • Hasil hutan atau kebun (rempah-rempah, seperti lada, gaharu, cendana, pala, kemenyan, serta gambir) dan 
  • Emas dan perak. 



Titik-titik perdagangan telah tumbuh, dipimpin oleh semacam penguasa yang dipilih oleh warga atau diwarisi secara turun-temurun. Catatan Tiongkok menyebutkan bahwa pada abad-abad pertama masehi diketahui ada masyarakat beragama Buddha, Hindu, serta animisme. 


Temuan-temuan arkeologi dari beberapa ratus tahun sebelum masehi hingga periode Hindu-Buddha menunjukkan masih meluasnya budaya Megalitikum, bersamaan dengan budaya Perundagian. 

Catatan Arab menyebutkan pedagang-pedagang dari timur berlayar hingga pantai timur Afrika. 


Peta Ptolemeus, penduduk Aleksandria, menuliskan Chersonesos aurea ("Semenanjung Emas") untuk wilayah yang kemungkinan adalah Semenanjung Malaya atau Pulau Sumatera.

Era Hindu & Budha Indonesia

Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. 


Agama Hindu Masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien.

Pada abad ke-4 di Jawa Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16.


Pada masa ini pula muncul dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan Majapahit. 

Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Tengah dan Kamboja. 


Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada, berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan pembentukan kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.

Thursday, August 28, 2014

Bangunan Megalithikum: hasil Pada Masa Bercocok Tanam

a. Dolmen

Gambar Dolmen
Bangunan ini oleh penduduk setempat disebut “makam Cina”. Dolmen dipergunakan sebagai peti mayat. Kecuali sebagai peti mayat, dolmen juga dipergunakan semacam meja, tempat untuk meletekkan sesaji. Bangunan ini ditemukan di daerah Bodowoso, Jawa Timur.


b. Menhir

Gambar Menhir


Menhir adalah tugu dari batu tunggal atau batu tegak yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek moyang. Menhir ada yang berdiri dalam satu kelompok. Bangunan ini ditemukan di daerah Pasemah, Sumatera Selatan.






 
 
 
 
 
 
 
 
c. Kubur Peti Batu

Gambar Kubur Peti Batu
Kubur batu yang berupa peti batu yang terdiri dari papan- papan batu yang lepas, yaitu dua sisi panjang, dua sisi lebar, lantai batu, dan diberi penutup dari batu pula. Berbeda dengan sarkofagus yang terbuat dari batu utuh menyerupai lesung batu yang diberi tutup. Sedang kubur batu ini dibuat dari papan batu yang disusun berbentuk peti. Bangunan ini ditemukan di daerah Kuningan, Jawa Barat; Sulawesi tengah; dan Sulawesi Utara.


 
 
 
d. Sarkofagus

Gambar Sarkofagus
Sarkofagus seperti juga dolmen adalah sebagai peti mayat dari batu. Di dalamnya ditemukan tulang-tulang manusia bersama dengan bekal kuburnya periuk-periuk, beliung persegi, perhiasan dari perunggu dan besi. Di Bali sarkofagus dianggap sebagai benda keramat. Sarkofagus adalah peti mayat dari batu (batu padas) berbentuk seperti lesung yang tertutup. Sarkofagus di Bali pada umumnya berukuran kecil (antara 80-140 cm) dan ada pula beberapa yang berukuran besar yaitu lebih dari 2 meter. Bangunan ini ditemukan di Bali.




e. Punden Berundak

Gambar Punden Berundak

Punden berundak merupakan tempat pemujaan. Biasanya pada punden berundak ini didirikan menhir. Bangunan megalitik ini merupakan susunan batu yang berundak- undak. Bangunan ini ditemukan di Lebak, Sibedug, dan Banten Selatan.




 
 
 
 
f. Arca Megalitik

Arca Megalitik
Arca-arca megalitik menggambarkan manusia dan binatang. Binatang-binatang yang digambarkan adalah berupa gajah, kerbau, harimau, dan monyet. Arca-Arca di daerah Sumatera Selatan menurut anggapan Von Heine Geldern bersifat “dinamik” dan “statik”. Bahan batu untuk membuat arca dipilih menurut bentuk-bentuk patung yang akan dipahat, kemudian bentuk patung yang akan dipahat disesuaikan dengan bentuk asli batunya. Sebagian besar patung yang menggambarkan manusia berbentuk orang laki-laki dan kepalanya memakai tutup kepala yang menyerupai topi baja, matanya bulat, menonjol dengan dahi yang menjorok, seperti tampang orang negroid, memakai hiasan gelang pada tangan dan kalung, serta membawa pedang pendek yang tampak menyerupai golok lurus atau belati runcing dan tergantung pada pinggangnya. Bagian kaki tertutup oleh pembalut kaki. Bangunan ini ditemukan di Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

KEPERCAYAAN MASA PRAAKSARA: Masa Perundagian

Kepercayaan pada masa perundagian merupakan kelanjutan kepercayaan pada masa bercocok tanam. 
Pada masa perundagian, terdapat kepercayaan bahwa arwah nenek moyang mempunyai pengaruh besar terhadap perjalanan hidup manusia dan masyarakatnya. Karena itu, arwah nenek moyang harus selalu diperhatikan dan dipuaskan melalui upaara-upacara. 

Benda upacara terbuat dari perunggu. Upacara-upacara dilakukan sesuai dengan tempat tinggalnya dan intinya sama, yaitu penghormatan atau pemujaan pada leluhur. 
Orang memuja ruh nenek moyang untuk meminta perlindungan. Upacara-upacara tersebut sangat erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat. Banyaknya peninggalan bangunan untuk pemujaan masa perundagian menunjukkan bahwa kedudukan kepercayaan masa itu sangat penting.

Pada masa perundagian, manusia pada masa itu untuk dapat berhadapan langsung dengan ruh nenek moyang dibuatkan patung-patung nenek moyang.  Pada patung-patung itulah ruh nenek moyang diam. 
Cara lain untuk berhadapan dengan ruh nenek moyang ialah dengan jalan memanggilnya. Orang yang dapat memanggil ruh adalah pada dukun (saman). Praktek itu disebut samanisme. Ruh nenek moyang disebut juga hyang (eyang). Hyang-hyang itu bersemayam di tempat-tempat tinggi yang bergunung-gunung.

KEPERCAYAAN MASA PRAAKSARA: Masa Bercocok Tanam

Pada masa bercocok tanam, kepercayaan manusia purba masih bersifat animisme, dinamisme, dan totemisme. 

Namun, sudah lebih meningkat dibandingkan masa sebelumnya. Pada masa ini dilakukan upacara-upacara penghormatan terhadap roh nenek moyang. 

Upacara yang paling mencolok adalah upacara pada waktu penguburan terutama bagi meraka yang dianggap terkemuka oleh masyarakat. 

Orang yang mati biasanya dibekali dengan bermacam-macam barang yang dipakai sehari-hari seperti periuk, perhiasan, dan sebagainya yang dikubur bersama-sama. 
Maksudnya adalah agar roh orang yang meninggal tidak akan tersesat dalam perjalanan menuju ke tempat arwah nenek moyang atau asal-usul mereka. Jika tempat yang dianggap sebagai tempat arwah terlalu jauh atau sukar dicapai, maka orang yang mati cukup dikuburkan di suatu tempat dengan meletakkan badannya terarah ke sebuah tempat yang dimaksud, yaitu tempat roh.

 
Pada masa bercocok tanam, orang yang meninggal dunia mendapat penghormatan khusus. 
Ini dibuktikan dengan banyak ditemukannya benda- benda berupa susunan batu besar dalam berbagai bentuk dan biasanya disebut bangunan megalithikum. 
 
 
Bangunan megalitik tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia. 
Bentuk bangunan yang bermacam-macam itu mempunyai maksud utama yaitu pemujaan terhadap arwah nenek moyang. 
 
Bangunan yang paling tua mungkin berfungsi sebagai kuburan. 
Bentuk-bentuk tempat penguburan dapat berupa: 
  1. Dolmen, 
  2. Peti Batu, 
  3. Bilik Batu, 
  4. Sarkofagus, 
  5. Kalamba atau bejana batu, 
  6. Waruga, 
  7. Batu Kandang dan 
  8. Temu Gelang 
 
Di tempat-tempat kuburan semacam itu kadang-kadang ditemukan bangunan batu besar lainnya sebagai pelengkap pemujaan terhadap roh nenek moyang seperti: 
  1. Menhir, 
  2. Patung nenek moyang, 
  3. Batu saji, 
  4. Batu lesung atau lumpang, 
  5. Batu dakon, Punden berundak, 
  6. Pelinggih batu atau jalanan batu
 
 
Di Bondowoso ditemukan dolmen, sarkofagus, menhir, arca megalitik, dan batu kenong. 
Di Besuki juga ditemukan dolmen semu dan sarkofagus. 
Di Bojonegoro dan Tuban ditemukan peti kubur batu yang oleh penduduk setempat dinamakan kubur kalang.
Di tempat lain di Jawa Tengah juga ditemukan benda-benda megalitik, seperti di Rembang ditemukan kursi-kursi batu, di Banyumas dan Purbalingga ditemukan punden berundak. 
Di Banten dan Bogor (Jawa Barat) juga ditemukan punden berundak sementara di kuningan ditemukan menhir. 
Di Pasemah, Sumatera Selatan dan di Sulawesi Tengah juga ditemukan menhir dan patung nenek moyang. 
Di Keliki dan Tegalang, Bali, ditemukan sarkofagus.

 
Beberapa jenis bentuk kuburan mengalami perkembangan pada fungsinya, misalnya  dolmen mengalami berbagai variasi bentuk, yaitu dibuat untuk pelinggih roh atau tempat sesaji. 
Dolmen yang berkembang menjadi pelinggih di antara masyarakat megalitik yang telah maju digunakan sebagai tempat duduk oleh kepala-kepala suku atau raja-raja yang masih hidup.


Tradisi mendirikan bagunan-bangunan megalithikum selalu berhubungan dengan kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dengan yang telah mati (mega berarti besar, lithos berarti batu). 

Terutama kepercayaan kepada adanya pengaruh yang kuat dari orang yang telah meninggal terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman. 
Bangunan-bangunan batu besar yang didirikan menjadi medium penghormatan, tahta kedatangan sekaligus menjadi lambang orang yang meninggal. 

Bangunan-bangunan megalithikum tersebar di daerah-daerah Asia Tenggara yang sisa-sisanya dapat ditemukan di daerah-daerah Laos, Tonkin, Indonesia, Pasifik sampai Polinesia. Tradisi megalitik yang masih hidup hingga sekarang antara lain terdapat di Assam, Birma (suku Naga, Khasi dan Ischim) dan beberapa daerah di Indonesia (Nias, Toraja, Flores, dan Sumba).

KEPERCAYAAN MASA PRAAKSARA: Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan


 
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia purba telah percaya adanya kekuatan-kekuatan gaib, seperti animisme, dinamisme, dan totemisme. Keyakinan akan adanya dunia arwah terlihat dari arah penempatan kepala mayat yang diarahkan ke tempat asal atau tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Tempat yang biasanya diyakini sebagai tempat roh nenek moyang adalah arah matahari terbit atau terbenam dan tempat-tempat yang tinggi misalnya, gunung dan bukit. Bukti-bukti mengenai hal itu terlihat dari hasil penggalian kuburan-kuburan kuna di beberapa tempat, seperti Bali dan Kematian, menunjukkan arah kepala mayat selalu ke arah timur atau barat atau kepuncak-puncak gunung dan bukit.

Praktik-praktik kepercayaan animisme terlihat dalam upacara penyelenggaraan upacara-upacara yang berhubungan dengan kematian. Penyelenggaraan upacara kematian dilandasi dengan kepercayaan bahwa suatu kematian itu pada dasarnya tidak membawa perubahan dalam kedudukan, keadaan, dan sifat seseorang. Dengan landasan itu, penguburan mayat selalu disertai dengan bekal-bekal kubur dan wadah mayat yang disesuaikan kedudukannya, agar kedudukan  si mati dalam alam arwah sama seperti ketika masih hidup.

Temuan peninggalan sejarah dari masa berburu yang berupa kuburan menurut pendapat para ahli membuktikan bahwa pada masa itu sudah mempunyai anggapan tentunya mengenai kematian. Orang menganggap bahwa orang yang telah meninggal itu pindah ke tempat lain dan masih dapat berhubungan dengan orang masih hidup. Inti kepercayaan tersebut adalah pemujaan dan perhormatan kepada roh orang yang telah meninggal, terutama penghormatan dan pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Di dalam gua-gua ditemukan kerangka manusia yang telah dikuburkan. Temuan semacam ini sangat penting untuk meneliti adat mengubur mayat dengan kepercayaan yang mereka anut. Para sejarawan berkesimpulan bahwa pada masa itu orang sudah mempunyai kepercayaan tertentu mengenai kematian.

TEKNOLOGI MASA PRAAKSARA: Masa Perundagian


Kapak Corong Salah Satu Perkakas  Zaman Perundagian
Pada zaman perundagian, tingkatan dan kemampuan orang-orang Nusantara makin lama makin meningkat. Cara berpikir dan peningkatan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari pun bertambah. Kebiasaan dan teknik membuat perkakas juga berkembang. Maka pemakaian barang-barang yang dibuat dari bahan logam muncul. Alat-alat dan perkakas dari logam yang daya tahannya lebih baik mulai, dipergunakan. Dengan pengenalan terhadap perkakas dari logam itu maka mulailah orang-orang Indonesia menginjak babak baru dalam kehidupan berbudaya. Secara berangsur-angsur tradisi pemakaian alat-alat atau perkakas dari batu mulai ditinggalkan orang. Dengan demikian, bangsa Indonesia mulai menginjak zaman logam.

Pada zaman perundagian ini, dikenal teknik pembuatan alat-alat dari logam yaitu:

a. A cire perdue yang caranya, mula-mula benda yang dimaksud di buat dari lilin. Setelah itu benda ditutup dengan tanah liat basah, lalu dibakar, lilin meleleh ke luar dari lubang yang dibuat di bagian bawah. Cetakan selesai dibuat, kemudian logam cair dituangkan ke dalam cetakan melalui lubang tadi. Setelah dingin cetakan dipecah.

b. Menggunakan cetakan dua setangkap terbuat dari tanah  liat basah. Setelah kering logam cair dituangkan ke dalamnya dan didiamkan sampai dingin lalu cetakan di buka.

TEKNOLOGI MASA PRAAKSARA: Masa Bercocok Tanam

Pada masa bercocok tanam, teknologi pembuatan alat mengalami kemajuan pesat apalagi ketika ditemukannya teknik peleburan, percampuran, penempaan, dan pencetakan logam. 
 
Semula jenis-jenis logam seperti besi, tembaga, timah, dan emas dibuat dengan teknik peleburan sederhana, kemudian dengan teknik percampuran menghasilkan perunggu yang lebih kuat. 
 
Pembuatan alat-alat dari logam semula menggunakan cara ditempa dan dipanaskan,  kemudian menggunakan teknik setangkup (bevalve) dan cetakan lilin (a cire perdue). 
Teknik setangkup dengan menggunakan model cetakan dari tanah liat, sedangakan cetakan lilin modelnya dibuat dari lilin, kemudian dibungkus dengan tanah liat. 
Setelah dipanaskan lilin akan mencair keluar dan terbentuk rongga. 
Pembuatan alat dan benda-benda pusaka serta gelang dari  bahan besi agaknya terbatas pada daerah-daerah tertentu di Pulau Jawa. Jenis-jenis benda besi itu berupa mata kapak, mata pisau, mata sabit, mata alat penyiang rumput, mata pedang, mata tombak, dan gelang besi.

Pada masa bercocok tanam dan tinggal menetap, misalnya sudah menguasai pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan usaha pertanian mereka. 
Teknologi pengairan sederhana pada waktu itu kemungkinan sudah dikuasai. 
Begitu juga pengetahuan mengenai iklim dengan memahami tanda-tanda alam untuk mengetahui kapan musim hujan dan kapan musim kemarau. Pengetahuan mengenai musim ini sangat penting bagi usaha bercocok tanam mereka.

Melihat alat-alat yang mereka kuasai, terutama kapak, dan terdapatnya bukti- bukti bahwa mereka sudah mengenal dan menemukan api, kemungkinan mereka sudah mengembangkan transaportasi air. 
Semula bentuk transportasi yang digunakan adalah rakit yang pembuatannya tidak terlalu sulit. Rakit digunakan pertama kali oleh manusia di pedalaman. Selain bahan-bahannya berupa bambu banyak tersedia, rakit sangat praktis untuk transportasi sungai. Sedangkan teknologi pembuatan perahu muncul kemudian ketika manusia dapat menguasai api dan mengembangkan kapak batu bertangkai. Dalam membuat perahu dilakukan secara bersama-sama, yaitu dengan cara pohon yang sudah ditebang dibakar sedikit lalu membuat lubang cekung dengan mengerakan kapak, kemudian dibakar lagi lalu  dilubangi lagi. Demikian berulang-ulang sampai terbentuk lunbang besar di tengah-tengah kayu.

Ketika manusia sudah mengembangkan usaha bercocok tanam dan tinggal menetap, tuntutan terhadap alat-alat penunjang kehidupannya juga mengalami perkembangan. 
 
Fungsi alat tidak hanya untuk berburu atau mengolah tanah. Akan tetapi juga untuk keperluan-keperluan yang bersifat keagamaan. Bahkan pada masa berikutnya pembuatan benda-benda sudah mulai menampakkan aspek-aspek seni yang sangat indah.

Masa bercocok tanam ini ditandai dengan berkembangnya kemahiran mengasah alat-alat batu dan pembuatan gerabah. 
Alat yang diasah adalah kapak batu dan beliung serta mata panah dan mata tombak. 
Alat-alat batu yang berupa beliung persegi merupakan alat yang paling umum digunakan pada masa itu. Hal itu terlihat dari temuan-temuan alat batu yang tersebar di beberapa tempat terutama di kawasan bagian Barat Indonesia.

Bentuk beliung kebanyakan memanjang dan seluruh permukaannya diasah halus kecuali di bagian pangkal untuk tempat mengikat tangkainya. 
Cara membuat bagian yang tajam dengan mengasah bagian samping untuk memperoleh tajaman miring seperti tajaman pahat sekarang ini. Jenis batu- batuan kalsedon, agat, dan jaspis paling umum digunakan untuk bahan pembuatan beliung. Di beberapa daerah terdapat variasi dari alat beliung ini, seperti beliung yang dibuat dari bahan khusus batu setengah permata, beliung bahu, beliung tangga, beliung atap, beliung biola, dan beliung penarah. 
Adanya variasi-variasi itu, selain menunjukkan perbedaan bentuk dan cara penggrapannya juga masing-masing alat itu mempunyai fungsi yang berbeda.

Persebaran beliung dan beberapa variasinya terdapat di daerah Bengkulu, Palembang, lampung (Sumatera), Banten, Bogor, Cibadak, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Semarang, Kedu, Yogyakarta, Wonogiri, Punung, Surabaya, Madura, Malang, Besuki (Jawa), dan daerah lainnya adalah Kalimantan, Sulawesi, Bali, Solor, Adonara, Ternate, Maluku, Sangihe, dan Talaud. Beberapa tempat seperti Tasikmalaya, Bogor, Punung, dan Palembang diperkirakan sebagai pusat pembuatan dan perbaikan beliung persegi.

Pada masa yang hampir bersamaan, di wilayah Indonesia Timur, seperti Sulawesi, Maluku, Flores, dan Irian, berkembang pembuatan alat batu berupa kapak lonjong. Bentuk kapak lonjong ini, sesuai dengan namanya berbentuk lonjong tetapi pada bagian tajamnya agak runcing dan melebar. Bedanya kapak lonjong dengan jenis kapak batu lainnya adalah pada tajaman. Tajaman kapak lonjong simetris atau dua sisi dan bahan yang digunakan untuk membuat kapak lonjong kebanyakan dari batu kali berwarna kehitam-hitaman. Beberapa alat ini seluruh permukannya diasah halus.

Selain alat-alat seperti serpih terutama anak panah, juga bahan-bahan dari tulang mengalami perkembangan. Bahan-bahan dari tulang berupa lancipan melengkapi alat-alat batu dalam upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Fungsi alat pada masa bercocok tanam tidak saja untuk membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya berupa makanan, tetapi juga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan rohani. Fungsi itu, misalnya untuk perhiasan atau pelengkap upacara.

Sementara itu, kebutuhan manusia juga semakin luas, umpamanya kebutuhan akan pakaian. Hal itu terlihat dari temuan alat batu berupa alat pemukul kulit kayu. Perhiasan mungkin tidak hanya untuk memenuhi tuntutan keindahan saja tetapi juga digunakan untuk alat tukar.

Ada temuan benda-benda perunggu di Indonesia yang mempunyai kemiripan dengan temuan benda-benda di Dongson (Vietnam). Hal itu diduga ada hubungan diantara keduanya. Adanya perkembangan teknologi pembuatan alat dari bahan logam tersebut tidak serta merta menghapuskan alat-alat dari batu. Pembuatan gerabah, misalnya, justru mengalami perkembangan baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk upacara-upacara penguburan dan keagamaan.

Pada masa bercocok tanam telah ada kemampuan membuat barang-barang dari gerabah, barang anyaman, dan barang-barang tenun. Barang-barang gerabah pada mulanya dibuat dengan cara yang sederhana, setelah banyak pengalaman mutunya makin diperbaiki, demikian pula pola hiasan dan warnanya. Alat-alat pada masa itu telah diupam (diasah) sampai halus. Bahkan ada alat- alat yang terbuat dari batu indah seperti batu kaldosen, batu api, dan lainnya.

Alat-alat tersebut mungkin tidak digunakan sehari-hari dan diduga sebagai alat tukar, jadi semacam alat pembayaran. Alat yang dipakai sehari-hari kebanyakan terbuat dari batu hitam atau batu kali. Oleh karena bahan untuk membuat alat-alat tersebut tidak terdapat di sembarang tempat, maka kemungkinan besar alat-alat semacam itu  menjadi barang perdagangan.

Alat-alat batu masa itu sudah bagus dan hasil buatannya. Ada pula alat-alat dari batu yang dibuat dari batu indah yang disebut Kalsedon dan batu api. Alat-alat batu indah tersebut diduga berfungsi sebagai alat tukar. Untuk mempertahankan hidupnya, manusia bercocok tanam membuat perkakas- perkakas seperti beliung persegi, kapak lonjong dan mata panah. Kelompok manusia bercocok tanam merupakan suatu kelompok masyarakat yang sudah menetap dan teratur. Mereka hidup dalam perkampungan yang terus tumbuh menjadi kesatuan-kesatuan yang lebih besar.

Berikut peralatan yang dihasilkan pada masa ini :

a. Kapak Lonjong

Gambar Kapak Lojong
Kapak ini bentuknya yang umum lonjong dengan pangkal agak runcing dan melebar pada bagian tajamnya. Bagian tajam ini diasah dari dua arah dan bentuk bagian tajamnya simetris. Di sinilah bedanya dengan beliung persegi yang tidak pernah memiliki bagian tajam yang simetris (setangkup). Bahan yang dipergunakan untuk membuat beliung tersebut umumnya dari batu kali yang berwarna kehitam-hitaman. Ada juga kapak lonjong yanmg berukuran kecil yang mungkin dipergunakan sebagai benda pusaka.

Daerah penemuan kapak lonjong di Indonesia hanya terbatas di daerah bagian timur, yaitu: Sulawesi, Sangihe-Talaud, Flores, Maluku, Leti, Tanimbar, dan Irian. Di luar Indonesia kapak-kapak lonjong ditemukan tersebar luas meliputi Birma, Laos, Cina, Mancuria, taiwan, Jepang, Filipina, dan juga India.

b. Beliung Persegi

Beliung Persegi
Masa bercocok di Indonesia bersamaan dengan  berkembangnya kemahiran mengupam (mengasah) alat-alat baru serta mulai dikenal cara pembuatan barang gerabah. Di antara alat-alat batu yang paling menonjol pada masa bercocok tanam di Indonesia adalah beliung persegi. Daerah penemuannya meliputi hampir seluruh kepulauan Indonesia, terutama di bagian barat. Di luar Indonesia alat-alat semacam itu ditemukan pula di Malaysia, Thailand, Vietnam, Khmer, Cina, Jepang, Taiwan, Filipina, dan Polinesia.

Pada umumnya beliung ini berbentuk memanjang dengan penampang lintang persegi. Bagian pangkalnya tidak diasah sebagai tempat ikatan tangkai. Ukuran dan bentuknya  bermacam-macam tergantung pada penggunaannya. Yang paling kecil semacam pahat berukuran panjang kira- kira 4 cm dan yang panjang kira-kira sampai 25 cm, dipergunakan untuk mengerjakan kayu. Bahan batuan yang digunakan membuat beliung-beliung itu pada umumnya berupa batu kalsedon, agat, chert, jaspis, dan sebagainya. Beliung batu oleh kalangan penduduk petani di beberapa tempat disebut “gigi halilintar” atau “gigi guntur”.

Ada bermacam-macam variasi yang kita kenal dari beliung persegi. Variasi yang paling umum ialah “belincung”, yaitu berpunggung tinggi. Karena bentuk punggung tersebut, maka penampang lintang menjadi segitiga, segi lima atau setengah lingkaran. Variasi ini kebanyakan ditemukan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali.

Perhatian terhadap beliung persegi dan kapak batu yang diasah halus di Indonesia mulai sekitar tahun 1850 oleh beberapa ahli bangsa Eropa. Waktu itu yang dijadikan bahan studi berasal dari temuan-temuan lepas, yang pengumpulannya diusahakan oleh sebuah perkumpulan swasta (antara tahun 1800-1850) yang bernama “Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen”. Koleksi perkumpulan ini disimpan di Museum Pusat di Jakarta.

Dari temuan-temuan lepas dapat diketahui daerah  persebaran beliung persegi termasuk bentuk-bentuk variasinya di Sumatera (Bengkulu, Palembang, Lampung), Jawa (Banten, Bogor, Cibadak, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Punung, Surabaya, Malang, Besuki), Madura, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Solor, Maluku, Sangihe dan Talaud. Di antara tempat-tempat tersebut ada yang diperkirakan semacam bengkel-bengkel beliung persegi seperti di Bangamas (Palembang), Karangnunggal (Tasikmalaya), di desa Pasirkuda (Bogor), di daerah pegunungan Karangbolong (Kedu) dan di Punung dekat Pacitan, Jawa Timur. Beliung-beliung yang ditemukan dalam keadaan utuh diduga mempunyai fungsi magis dan atau dipergunakan sebagai alat tukar dalam sistem perdagangan sederhana.

Dari temuan-temuan lepas dapat diketahui daerah  persebaran beliung persegi termasuk bentuk-bentuk variasinya di Sumatera (Bengkulu, Palembang, Lampung), Jawa (Banten, Bogor, Cibadak, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Punung, Surabaya, Malang, Besuki), Madura, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Solor, Maluku, Sangihe dan Talaud. Di antara tempat-tempat tersebut ada yang diperkirakan semacam bengkel-bengkel beliung persegi seperti di Bangamas (Palembang), Karangnunggal (Tasikmalaya), di desa Pasirkuda (Bogor), di daerah pegunungan Karangbolong (Kedu) dan di Punung dekat Pacitan, Jawa Timur. Beliung-beliung yang ditemukan dalam keadaan utuh diduga mempunyai fungsi magis dan atau dipergunakan sebagai alat tukar dalam sistem perdagangan sederhana.

c. Perhiasan

Dalam masa bercocok tanam, perhiasan-perhiasan berupa gelang dari batu dan kerang rupa-rupanya sudah dikenal. Perhiasan semacam ini kebanyakan ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Bahan-bahan untuk membuat gelang itu terdiri atas batu pilihan seperti agat, kalsedon, dan jaspis yang berwarna kuning, merah, coklat dan hijau. Di luar Indonesia gelang-gelang batu juga ditemukan di Szechwan, Fengtien, Thail dan, Malaysia, Honan, pulau Lamma, dan Taiwan.